Selasa, 21 April 2026 Oleh Khanifah, S,Pd.
SEMARANG – Suasana khidmat menyelimuti lapangan utama SMP Negeri 38 Semarang pada Selasa pagi (21/4). Seluruh civitas akademika berkumpul dengan mengenakan busana adat Semarang guna memperingati Hari Kartini tahun 2026. Upacara yang berlangsung tertib ini menjadi momentum refleksi atas perjuangan pahlawan emansipasi wanita, Raden Ajeng Kartini.
Bertindak sebagai Pembina Upacara, Ibu Sri Lestari, S.Pd., dalam amanatnya menekankan pentingnya menghayati kembali sejarah perjuangan Kartini. Beliau memaparkan bagaimana Kartini dengan gigih memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum perempuan Indonesia di masa penjajahan.
"Semangat Kartini bukan sekadar tentang kebaya yang kita kenakan hari ini, melainkan tentang kecerdasan berpikir dan keberanian memperjuangkan hak pendidikan. Dari pena beliau, lahir pemikiran besar dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang," ujar Ibu Sri Lestari.
Beliau juga menggarisbawahi filosofi dari judul buku legendaris tersebut, yakni keyakinan bahwa setiap kesulitan pasti akan diikuti oleh kemudahan. Pesan ini secara khusus ditujukan kepada peserta didik kelas IX yang saat ini tengah berada di masa krusial menuju kelulusan.
Di tengah suasana peringatan, Ibu Sri Lestari memberikan suntikan motivasi bagi siswa kelas IX yang sedang bersiap menghadapi Asesmen Akhir Jenjang (AAJ). Beliau berharap para siswa dapat meneladani ketekunan Kartini dalam belajar demi meraih masa depan yang gemilang.
"Kami berharap seluruh siswa kelas IX dapat menjalani asesmen dengan jujur dan maksimal. Semoga hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) tahun ini memuaskan, sehingga anak-anak sekalian dapat diterima di sekolah lanjutan tingkat atas yang diinginkan," tambahnya di hadapan ratusan siswa.
Menutup amanatnya, Ibu Sri Lestari mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan karakter yang kuat. Beliau menghimbau seluruh siswa SMP Negeri 38 Semarang untuk tetap mematuhi tata tertib sekolah dan senantiasa menjaga sopan santun, baik kepada guru maupun sesama teman.
Upacara diakhiri dengan pembacaan doa dan sesi foto bersama yang menampilkan keberagaman budaya Indonesia melalui pakaian adat yang dikenakan oleh para peserta. Semangat "Habis Gelap Terbitlah Terang" diharapkan terus menyala dalam sanubari para siswa untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin dinamis.